Jumat, 14 Juli 2017

PENDAHULUAN


 

Keperluan akan bahan pangan senantiasa menjadi permasalahan yang tidak putus-putusnya. Kekurangan pangan seolah olah sudah menjadi persoalan akrab dengan manusia. Kegiatan pertanian yang meliputi budaya bercocok tanam merupakan kebudayaan manusia paling tua. Sejalan dengan peningkatan peradaban manusia, teknik budidaya tanaman juga berkembang menjadi berbagai sistem. Mulai dari sistem yang paling sederhana sampai sistem yang canggih. Berbagai teknologi budidaya dikembangkan guna mencapai produktivitas yang diinginkan.
Istilah teknik budidaya tanaman diturunkan dari pengertian kata-kata teknik, budidaya, dan tanaman. Teknik memiliki arti pengetahuan atau kepandaian membuat sesuatu, sedangkan budidaya bermakna usaha yang memberikan hasil. Kata tanaman merujuk pada pengertian tumbuh-tumbuhan yang diusahakan manusia, yang biasanya telah melampaui proses domestikasi. Teknik budidaya tanaman adalah proses menghasilkan bahan pangan serta produk-produk agroindustri dengan memanfaatkan sumberdaya tumbuhan.
Pada umumnya kegiatan budidaya tanaman terkait dengan tingkat pengetahuan manusia pada masa itu. Relevansi dari peradaban tersebut terwujud pada kesadaran untuk melaksanakan tindak budidaya. Tindak awal dari dimulainya teknik budidaya dimulai dengan menetapnya seorang peladang menempati suatu areal pertanaman tertentu.
Tingkatan tindak budidaya tanaman dicerminkan juga oleh tingkatan pengelolaan lapang produksi. Pengelolaan yang paling sederhana sampai pengelolaan yang paling maju, yaitu teknik budidaya yang telah melakukan pengelolaan terhadap unsur iklim, air, tanah dan udara. Pada kelompok ini pelaku budidaya telah dapat mengestimasi produksi maksimumnya dan panen yang tepat waktu. Sebagaimana diketahui ketepatan saat panen sangat menentukan nilau jual suatu produk. Intensifikasi dalam pengelolaan lapang produksi diikui juga oleh meningkatnya sarana agronomi baik bahan atau jasa.
 
   
Tanaman dibudidayakan dengan maksud agar tanaman tersebut memberikan hasil tinggi secara kuantitatif dan kualitatif. Dengan demikian untuk mencapai maksud dan tujuan dalam budidaya tanaman, pemeliharaan varietas sangat menentukan. Selain varietas juga perlu diperhatikan mutu benih, karena benih merupakan biji tanaman yang digunakan untuk tujuan pertanaman. Pada budidaya tanaman pangan utama yang merupakan tanaman serealia, benih sebagai penyambung kehidupan tanaman sangatlah penting untuk mencegah kegagalan petani. Untuk melindungi petani dari kegagalan, maka pengujian benih perlu dilakukan.
Permasalahan yang sering dihadapi dalam usaha teknologi budidaya tanaman dan pasca panen adalah bagaimana cara memelihara tanaman  agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sampai panen. Selain itu untuk melakukan pemeliharaan tanaman agar terhindar dari serangan OPT terkadang juga mengalami kendala, sehingga perlu diterapkan pengendalian OPT secara terpadu agar kehilangan hasil karena OPT dapat diminimalir.

A.    Persiapan Lahan
Agregasi tanah merupakan faktor penting dalam pertumbuhan tanaman, karena pergerakan udara, air dan perpindahan energi saling berkaitan dengan porositas tanah. Temperatur tanah merupakan faktor yang sangat beragam namun pengaruhnya tehadap pertumbuhan tanaman bergantung pada intensitas cahaya panjang hari, variasi musiman, curah hujan dan warna serta tekstur tanah. Pergerakan tanah merupakan ciri fisik tanah yang penting yang mempengaruhi munculnya kecambah (Rao, 1994).
Pengolahan pertama adalah pembukaan lahan kering yang bertujuan membersihkan hama dan gulma serta menyingkirkan kerikil di sekitar media tanam. Lahan tersebut memiliki struktur remah (setelah diolah) yang merupakan struktur yang ideal bagi tanaman (Munir, 1996).
Agar memperoleh hasil seperti yang diinginkan maka tanah erlu dan disiram dan digemburkan. Akan tetapi, tanah yang setiap hari disiram tentu saja akan semakin padat dan udara di dalamnya semakin sedikit. Akibatnya akar tanaman tidak dapat leluasa menyerap unsur hara. Untuk menghindarinya, tanah di sekitar tanaman perlu digemburkan dengan hati – hati agar akar tidak putus (Tohir, 2005).
Tanaman dalam pertumbuhanya memerlukan nutrisi yang berupa unsure hara. Sedangkan asupan unsure tersebut diperoleh tanaman dari media tanam yaitu tanah. Tanah mampu menyediakanya bagi. Dalam tanah menyediakan beberapa unsur yang diperlukan untuk  pertumbuhan tanaman. Dalam penggunaanya sebagai media tanam sebaiknya tanah tersebut bebas penyebab penyakit. Pemakaian tanah yang bebas penyebab penyakit harus diartikan tanah yang relatif atau sama sekali bebas patogen yang dapat merugikan tanaman (Lal, 1994).
3
 
Lingkungan tanah merupakan sumber nutrisi dan air bagi tanaman. Sedangkan lingkungan iklim yang penting antara lain: radiasi surya, suhu dan kelembaban. Interaksi antara tanaman dengan faktor lingkungan akan memberikan gambaran terhadap perkembangan dan hasil tanaman (Suminarti, 2000).
Pada pemberian nutrisi, nitrogen memiliki peran penting sebagai fiksasi N2 biologis yang kemungkinan besar dapat menyediakan jumlah yang cukup untuk mengimbangi jumlah hasil panen yang diekspor, tetapi pergerakan nitrat pada kondisi curah hujan yang tinggi dapat mengurangi efisiensi penggunaan N, baik sebagai sumber organik dan sebagai pupuk mineral N (Noordwjik et al., 1996).
B.     Pemilihan dan Perhitungan Kebutuhan Benih
Benih dapat dibilang input terpenting dalam budidaya pertanian. Tanpa benih yang berkualitas tidak akan diperoleh hasil panen yang baik. Kualitas benih baru bisa diketahui ketika benih tersebut ditanam dan kemudian tumbuh (Anonim, 2007).
Petani sejak dahulu biasa memproduksi bibitnya sendiri. Dengan memakai indukan yang jelas diketahui sifat-sifatnya, petani memproduksi benih secara mandiri menggunakan teknologi dan metode tradisional yang mereka kembangkan sendiri (Anonim, 2007).
Dalam pertanian perlu adanya penggunaan bibit yang unggul agar hasil yang diperoleh juga tinggi. Benih unggul yang diperoleh dari varietas hasil pemuliaan tanaman disebut dengan benih penjenis, misalnya klon, galur-galur murni atau varietas hibrida. Benih yang telah diperoleh harus dijaga agar susunan genetisnya tidak berubah (Setyati, 1991).
Faktor lingkungan memegang peranan penting dalam perkecambahan, karena untuk mampu berkecambah benih memerlukan kondisi media tanam yang lembab. Kondisi ini akan merangsang munculnya akar utama yang akan diikuti oleh pergerakan lain sampai menjadi bibit. Dalam meningkatkan keberhasilan dan waktu berkecambah lebih cepat, penggunaan zat pengatur tumbuh dapat dilakukan. Secara umum beberapa kasus perkecambahan meningkat sampai 100% dan benih dapat berkecambah lebih cepat 4 - 5 hari dari normalnya (Anonim, 2008).
Daya berkecambahnya benih diartikan sebagai mekar dan berkembangnya bagian-bagian penting dari suatu embrio suatu benih yang menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh secara normal pada lingkungan yang sesuai. Dengan demikian pengujian daya kecambah benih ialah pengujian akan sejumlah benih, berupa persentase dari jumlah benih tersebut yang dapat atau mampu berkecambah pada jangka waktu yang telah ditentukan (William, 1991).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar